Refleksi di Tahun Masehi Dan Tahun Hijriah

Refleksi di Tahun Masehi Dan Tahun Hijriah

Setiap yang hidup pasti terlahir, tumbuh, berkembang dan pada akhirnya mati. Di dunia setiap segala sesuatunya memiliki waktu yang terus menua mengikuti siklus kehidupan hingga kematian. Perubahan dari ada hingga menjadi tiada maupun sebaliknya perlu dicermati selama masih diberikan anugerah, tanda masih ada rasa syukur.

Refleksi akan menjadi sangat penting mengingat adanya pengakuan terhadap proses siklus kehidupan. Secara harfiah kata refleksi adalah gerakan, pantulan di luar kemauan atau cerminan sebagai gambaran. Tidak sedikit banyak orang membandingkan masa lalu dengan harapan di masa yang akan datang dengan menyebutkan refleksi atau kilas balik kehidupan nya.

Tentunya setiap manusia menginginkan kehidupan nya lebih baik dari waktu ke waktu, walaupun tidak abadi – Pada hakekat nya hidup di dunia hanya sementara dan sandiwara serta penuh rencana atas harapan. Begitu juga hitungan tahun kehidupan yang semakin dekat dengan “pensiun di dunia”. Refleksi di Tahun Masehi dan Tahun Hijriah, baik itu dalam hitungan kalender tahun masehi ataupun kalender tahun hijriah. Walaupun sekilas sama tetapi tetap memiliki makna yang berbeda.

 

Tentang Tahun Masehi dan Tahun Hijriah 2020 M/1441 H

Sistem penanggalan Tahun Masehi merupakan sebutan untuk penanggalan yang digunakan pada kalender Julian dan Gregorian ketika umat Kristiani mempercayai Yesus lahir di dunia (1 Masehi). Dalam bahasa latin dikenal sebagai Anno Domini (AD: Tahun Tuhan), pada zaman modern muncul istilah Common Era (CE: Era Umum) dan, Before Christ (BC: Sebelum kelahiran Yesus Kristus). Penggunaan kalender Masehi digunakan secara luas hingga kini untuk mempermudah komunikasi penanggalan di seluruh dunia. Walupun di samping itu terdapat juga sistem penanggalan lainnya di Indonesia seperti Hijriah, Tahun Imlek dan, Tahun Jawa.

Adapun sistem penanggalan Tahun Hijriah merupakan sebutan untuk penanggalan yang digunakan pada kalender Islam ketika terjadinya peristiwa hijrah Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wa salam pada tanggal 12 Rabiul Awal tahun 622 Masehi dari Mekkah ke Madinah. Adapun penanggalan Tahun Hijriah digunakan sebagai acuan dalam melakukan ibadah dan waktu penting Islam.

Beda sistem penanggalan Masehi dan Hijriah berdasarkan dari tokoh besar manusia yang memudahkan manusia dalam mengingat dan berpedoman dalam menjalani waktu-waktu kehidupan selama di dunia. Di dalam Islam sesungguhnya hidup ini hanyalah sementara (ngontrak) dan mencari perbekalan untuk kembali pulang ke rumah sesungguhnya yaitu kehidupan akhirat (kehidupan setelah kematian). Tentunya Kita dapat memilih sesuai dengan keyakinan apa yang akan di tempuh dalam hidup ini, menjalani kehidupan berdasarkan tuntutan duniawi atau akhirat? Atau Kita terus berusaha seimbang antara tuntutan dunia dan akhirat?

 

Semua yang Bernyawa Pasti Akan Mati

Exploring horizons - rurydermawan.id
Exploring horizons – rurydermawan.id

Jika Kita jeli dan mau memperhatikan semuanya yang ada di sekitar kita, kata-kata “Semua yang bernyawa pasti akan mati”, dari yang telah hidup hingga pada akhirnya mati. Akan di sini berarti belum terjadi saat ini, mungkin saja di lain waktu yang sudah ditentukan terjadi. Mengutip ayat Al-Quran mengenai kematian sebagai berikut:

“Tiap-tiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati. Dan Kami akan menguji kamu dengan keburukan serta kebaikan sebagai cobaan. Dan hanya kepada Kamilah kamu akan dikembalikan.” – (Q.S Al-Anbiya: Ayat 35)

Sebagai manusia yang lemah di mata pencipta Nya, tentulah kematian tidak dapat dipungkiri bahkan lari akan ketetapan Nya. Sebagai umat Islam dan mengaku beriman, harus mau dan harus siap untuk menghadapinya. Di balik himbauan terdapat solusi nya, yaitu kesabaran dan syukur atas segala ujian atas keburukan dan kebaikan yang dihadirkan kepada kita sebagai cobaan.

“Setiap yang bernyawa tidak akan mati melainkan atas izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya. Barangsiapa menghendaki pahala dunia, niscaya Kami berikan pahala dunia itu kepadanya, dan barangsiapa menghendaki pahala akhirat, niscaya Kami berikan pula pahala akhirat itu kepadanya. Dan Kami akan memberikan balasan kepada orang-orang yang bersyukur.” – (Q.S Ali-Imran: Ayat 145)

Sebagai bentuk wujud syukur dari manusia terletak pada usaha nya dalam mencari bekal dan terus ber-tawakal mengharapkan yang terbaik dari Allah. Karena semua kematian sudah memiliki ketetapan waktu dan tempat nya, sehingga terkadang kita dihadapkan dengan ketakutan dan kekagetan yang luar biasa. Kesedihan hanyalah ujung dari wujud manusia sebagai mahkluk yang lemah tanpa daya dan upaya tanpa adanya penolong dari Allah.

Manusia gampang terkena stres dan tidak bahagia atau belum menemukan kebahagiaan jikalau masih pusing memikirkan apalagi sampai mengganggu 3 domain Allah yaitu, Rizki-Jodoh-Mati.

Harapan selalu menjadi manis di awal, namun akan pahit jika tidak sesuai dengan kenyataannya. Sehingga terkadang kita harus mengantisipasinya sehingga kita tidak ambil pusing jikalau ada perubahan yang belum sesuai dengan harapan. Begitu juga dengan refleksi, Sudahkan Anda Membuat Refleksi di Tahun Masehi dan Tahun Hijriah?

“Allah meluaskan rizki dan menyempitkannya bagi siapa yang Dia kehendaki. Mereka bergembira dengan kehidupan di dunia, padahal kehidupan di dunia itu (dibanding dengan) kehidupan akhirat, hanyalah kesenangan (yang sedikit).” – (Q.S Ar-Ra’du: Ayat 26)

 

Apa Sih Tujuan Manusia Hidup di Dunia?

Sekiranya dapat menjabarkan nya, pastilah sangat panjang dalam menguraikan nya dalam bentuk opini hingga referensi lainnya. Alhasil Saya akan mengacu kepada Al-Quran dan Sunnah (perkataan, perbuatan, ketetapan, dan persetujuan dari Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wa Salam) sebagai pedoman kehidupan manusia di dunia hingga akhirat nanti. Sehingga tujuan manusia hidup di dunia sesuai dengan pedoman nya, tidak asal hidup saja.

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” – (Q.S Adz Dzariyat: Ayat 56)

Puncak dari diberikan nya kehidupan kepada manusia adalah ibadah, apapun cara dan bentuk nya. Ada beragam cara dan bentuk tentunya mengikuti pedoman yang sudah diberikan agar manusia tidak melakukan hal yang diluar batas. Selain itu juga bertujuan untuk mempermudah kita untuk menagamalkan (melakukan) nya. Tentunya juga sesuai dengan kemampuan kita dalam melakukan ibadah tersebut, bahkan dengan hanya senyum kepada sesama manusia pun juga termasuk ibadah.

 

Focus - rurydermawan.id
Focus – rurydermawan.id

Ada banyak bentuk dan cara-cara beribadah yang sudah di atur dalam Al-Quran dan Sunnah. Saya pun masih perlu membaca lebih banyak kembali supaya hidup ini sesuai dengan pedoman yang diharuskan dalam rangka ber-ibadah. Memang yang paling berat adalah mengaplikasikan pedoman Nya di dalam kehidupan keseharian kita.

Tetapi, setiap manusia diberikan kemampuan dalam berfikir dan nafsu yang membuat perbedaan terhadap tujuan hidup di dunia. Setiap manusia memiliki hak untuk menentukan tujuan nya masing-masing tentunya dengan berani bertanggung jawab atas pilihannya sendiri. Adapun hak prerogatif Allah sebagai pencipta manusia adalah memberikan pedoman (hidayah) berupa Al-Quran (tertulis), Sunnah (perkataan, perbuatan, ketetapan, dan persetujuan dari Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wa Salam) dan, pedoman kepada manusia secara individual (langsung) bagi yang di sayangi Nya, Wallahu A’lam (hanya lah Allah yang Mahatahu sesungguhnya).

Oleh karena nya, setiap tujuan yang kita inginkan di dunia bahkan akhirat hendaknya selalu meminta petunjuk dan kasih sayang Nya Allah Subhanahu wa ta’ala. Sehingga semua tujuan-tujuan manusia hidup di dunia dapat terpenuhi, tentunya tujuan yang baik-baik ya! Ingat sabar dan syukur kunci bahagia di dunia dan sahabat kehidupan untuk meraih ketenangan jiwa dan raga – In sya’ Allah (Jika Allah mengizinkan)

“Satu bagian kecil nikmat di surga lebih baik dari dunia dan seisinya.” –  Disebutkan dalam sebuah riwayat Hadist Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dari Sahl bin Sa’ad As Sa’idi.

 

Perbedaan Refleksi Tahun Masehi dan Tahun Hijriah

Sebenarnya secara kasat mata tidaklah berbeda atau kalau tidak mau pusing-pusing ber-filosofi pasti bilangnya sama aja. Tapi menurut Saya akan berbeda memaknai refleksi menggunakan Tahun Masehi dan Tahun Hijriah. Saya ber-opini bahwa karena sistem penanggalan di dunia bahkan di Indonesia lebih familiar dengan kalender Tahun Masehi, tentunya penggunaan nya lebih memudahkan.

Lalu penggunaan kalender Tahun Hijriah sangat erat kaitannya dengan waktu-waktu ibadah. Tentunya lebih mudah karena ada banyak sekali peristiwa-peristiwa Islam yang tidak dimasukan kedalam sistem penanggalan Tahun Masehi. Saya tetap menggunakan dan menerima sistem penanggalan Tahun Masehi dengan nyaman untuk urusan “duniawi”. Sedangkan untuk urusan “ibadah” Saya lebih nyaman dengan sistem penanggalan Tahun Hijriah. Tinggal disesuaikan dengan konteks nya saja.

Nah, berbicara Tentang Refleksi di Tahun Masehi dan Tahun Hijriah tentunya ada acuan atau perbandingan yang menjadikan tolak ukur, terutama soal kehidupan. Semoga saja refleksi Tahun Masehi yang lalu biarlah menjadi pengalaman untuk terus melangkah kedepan menyongsong kehidupan yang lebih baik lagi tentunya. Aktivitas yang berlangsung dari bulan Januari hingga Desember 2019 semoga membawa manfaat bagi diri sendiri, orang lain dan kehidupan.

Sedangkan refleksi Tahun Hijriah semoga semakin berkurangnya umur Saya dan kita semua, semoga menjadi rangkaian perjalanan yang terhitung sebagai ibadah kepada Allah. Semakin dan selalu di sayang dan dipelihara jiwa dan raga serta dikabulkan nya do’a-do’a kita dengan tujuan baik yang kita miliki serta tujuan utama kita sebagai manusia di dunia. Aamiiin.

Selamat Tahun Baru Masehi 1 Januari 2020 / 6 Jumadil Awal 1441 Hijriah.

.

.

.

**Referensi aplikasi Al-Quran GRATIS di Android: www.thewalistudio.com | Instagram: @instawalistudio

———————————————————————————————–

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *